Potensi Besar Budidaya Lele Mutiara

Please log in or register to like posts.
News

“Lele mutiara (Clarias gariepinus) bukan hasil dari persilangan tapi hasil perbaikan genetis menggunakan program seleksi,” ungkap Bambang Iswanto, S.Pi.,MP., Peneliti Muda Bidang Akuakultur, Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi.

 

Lele mutiara merupakan hasil seleksi generasi ketiga (G3). Pada awalnya, generasi ini dibentuk melalui kombinasi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia, yakni lele mesir, paiton, sangkuriang, dan dumbo sebagai populasi induk pembentuknya (founder populations).

 

Berdasarkan hasil karakterisasi yang dilakukan di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, masing-masing populasi (strain) induk pembentuk tersebut diketahui memiliki keunggulan dan kekurangan. Lele mesir, yang diperoleh dari hibah mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat pada awal tahun 2011, memiliki keunggulan ketahanan terhadap penyakit dan lingkungan yang kuat serta keseragaman ukuran yang relatif tinggi. Sayang, pertumbuhan dan fekunditasnya relatif rendah.

 

Lele paiton, yang dikoleksi dari Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) Mojokerto pada awal tahun 2010, memiliki performa pertumbuhan dan efisiensi pakan yang tinggi. Namun, keseragaman ukurannya rendah, kanibalismenya tinggi, dan relatif rentan terhadap penyakit.

 

Lele sangkuriang, yang dikoleksi dari Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Cijengkol awal tahun 2010, memiliki keunggulan fekunditas yang tinggi serta daya adaptasi terhadap lingkungan budidaya yang baik. Namun, rentan terhadap penyakit dan pertumbuhan yang relatif rendah.

Adapun lele dumbo, yang dikoleksi dari pembenih lokal pada awal tahun 2010, merupakan populasi pelengkap dengan performa yang moderat.

 

“Masing-masing keunggulan tersebut diharapkan dapat digabungkan dalam suatu strain lele Afrika unggul yang baru,” ungkap Bambang.

 

Penggabungan keunggulan performa beragam strain lele tersebut pada tahap awal dilakukan melalui persilangan di antara keempat strain lele. Disebabkan keunggulan masing-masing strain tersebut tidak sama, jumlah masing-masing induk yang digunakan dalam proses persilangan tersebut juga dibuat tidak sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *